Desain Pengembangan Komoditas Unggulan
Analisis ini berfokus pada dua komoditas utama kawasan, yaitu Jagung (Subsektor Pangan) dan Jambu Mete (Subsektor Perkebunan), untuk merumuskan strategi pembangunan yang terintegrasi.
I. Isu dan Karakteristik Umum Kawasan
Secara umum, Kawasan Transmigrasi Tambora menghadapi sejumlah persoalan struktural dan teknis, meliputi konflik lahan, keterbatasan infrastruktur dasar, ketergantungan tinggi pada pertanian tadah hujan, dan lemahnya kelembagaan ekonomi desa.
Setiap Satuan Pemukiman memiliki karakteristik yang berbeda:
- SP1 & SP2: Selain pertanian tadah hujan, sebagian akses jalan usaha juga masih rusak.
- SP3, SP4 & SP5: Pertanian tadah hujan, minimnya akses internet, dan jalan usaha rusak.
- SP6: Dinamika kompleks, tantangan ketiadaan lahan usaha, serta permasalahan administrasi dan pengairan.
II. Strategi Pengembangan Komoditas Jagung
Hasil analisis lingkungan internal dan eksternal melalui Matrix IE menunjukkan bahwa komoditas jagung berada pada posisi Hold and Maintain. Posisi ini mengindikasikan bahwa kekuatan internal cukup stabil untuk dipertahankan, namun belum cukup kuat untuk mendorong strategi ekspansi yang agresif.
Berdasarkan kombinasi metode SWOT, IFEāEFE, dan QSPM yang divalidasi oleh berbagai stakeholder di tingkat lokal maupun regional, diperoleh tiga strategi prioritas utama dari sepuluh strategi yang disusun.
| Urutan Prioritas | Score | Alternatif Strategi Komoditas Jagung |
|---|---|---|
| 1 | 19.59 | Pembangunan irigasi primer, sekunder, dan tersier pada seluruh SP untuk menjaga ketersediaan air di musim kemarau dan mengatur aliran air saat musim hujan. |
| 2 | 17.68 | Pengembangan sistem pertanian Agroforestry dengan mengintegrasikan jagung dan jambu mete guna meningkatkan produktivitas dan menjaga kesuburan tanah. |
| 3 | 14.13 | Pembangunan dan optimalisasi embung sebagai sumber pasokan irigasi pada seluruh SP. |
Strategi prioritas awal difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar pertanian, khususnya pengembangan sistem irigasi. Selanjutnya, agroforestry diarahkan untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan degradasi lahan pertanian jagung.
Keberhasilan agroforestry sangat bergantung pada ketersediaan air yang memadai. Oleh karena itu, optimalisasi embung dan sistem irigasi menjadi prasyarat utama bagi keberlanjutan sistem ini.
III. Strategi Pengembangan Komoditas Jambu Mete
Hasil kuantifikasi IFE dan EFE menunjukkan bahwa komoditas jambu mete berada pada Kuadran V Matrix IE atau kategori Hold and Maintain. Kondisi ini menunjukkan kinerja internal dan eksternal yang relatif stabil namun belum cukup kuat untuk ekspansi agresif.
Oleh karena itu, pengembangan jambu mete diarahkan pada penguatan kapasitas produksi dan efisiensi rantai pasok agar mampu mempertahankan daya saing secara berkelanjutan.
| Urutan Prioritas | Score | Alternatif Strategi Komoditas Jambu Mete |
|---|---|---|
| 1 | 21.66 | Optimasi lahan dan proses produksi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi untuk meningkatkan volume produksi. |
| 2 | 20.89 | Pengembangan industri pengolahan biji mete sebagai tahap awal hilirisasi produk. |
| 3 | 20.31 | Perbaikan on-farm melalui pemangkasan, pengelolaan kelembapan, dan sanitasi kebun. |
Strategi pengembangan jambu mete menitikberatkan pada optimalisasi pengelolaan lahan dan peningkatan kualitas on-farm sebagai fondasi utama sebelum pengembangan industri hilirisasi.