Komoditas Unggulan Kawasan Transmigrasi Tambora

Kajian ini mengidentifikasi komoditas unggulan spesifik di Kawasan Transmigrasi Tambora, dengan fokus pada subsektor tanaman pangan dan perkebunan. Penentuan prioritas komoditas dilakukan melalui analisis sosial ekonomi menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), sebagai dasar pengambilan keputusan pengembangan kawasan yang berkelanjutan.

Komoditas Prioritas Subsektor Tanaman Pangan

Tiga komoditas utama yang dianalisis dalam subsektor tanaman pangan adalah jagung, kacang tanah, dan padi. Ketiga komoditas ini dipilih karena memiliki persebaran yang merata, mencerminkan kondisi agroekologi khas Tambora yang didominasi oleh lahan kering berpengairan terbatas, serta memiliki tingkat keterjangkauan yang tinggi bagi petani.

Berdasarkan hasil analisis sosial ekonomi menggunakan metode AHP, urutan prioritas komoditas tanaman pangan di Kawasan Transmigrasi Tambora adalah sebagai berikut:

  • Jagung (Rasio Kepentingan: 0,502)
  • Padi (Rasio Kepentingan: 0,287)
  • Kacang Tanah (Rasio Kepentingan: 0,211)

Faktor Penentu Prioritas Jagung

  • Produksi dan Kontinuitas (Paling Penting): Jagung memiliki rasio kepentingan tertinggi (0,685). Data BPS tahun 2025 menunjukkan bahwa jagung merupakan komoditas dengan produksi tertinggi di Kecamatan Tambora, yaitu sebesar 14.208 ton.
  • Permintaan Pasar: Jagung memiliki rasio kepentingan tertinggi (0,533), yang didukung oleh keberadaan pengepul di hampir setiap desa.
  • Keberadaan Produk Turunan: Jagung memiliki potensi pengolahan tertinggi (0,588) dengan pemanfaatan yang luas sebagai bahan baku industri pangan, pakan ternak, dan bioenergi.

Catatan: Meskipun padi memiliki tingkat keuntungan usaha tertinggi dan menjadi fokus program prioritas pemerintah daerah, keunggulan jagung pada aspek produksi, permintaan pasar, dan keberadaan produk turunan menempatkannya sebagai komoditas prioritas utama secara keseluruhan.

Komoditas Prioritas Subsektor Perkebunan

Pada subsektor perkebunan, tiga komoditas yang dianalisis menggunakan metode AHP adalah jambu mete, tembakau, dan pisang. Ketiga komoditas tersebut dipilih karena memiliki basis keberadaan yang kuat serta relevansi ekonomi yang signifikan di Kawasan Transmigrasi Tambora.

Hasil analisis sosial ekonomi menunjukkan urutan prioritas komoditas perkebunan sebagai berikut:

  • Jambu Mete (Rasio Kepentingan: 0,513)
  • Tembakau (Rasio Kepentingan: 0,278)
  • Pisang (Rasio Kepentingan: 0,208)

Faktor Penentu Prioritas Jambu Mete

  • Produksi dan Kontinuitas (Paling Penting): Jambu mete memiliki rasio kepentingan tertinggi (0,655) dan paling sesuai dengan kondisi alam serta karakteristik lahan di wilayah Tambora.
  • Permintaan Pasar: Memiliki rasio kepentingan tertinggi (0,655), yang tercermin dari tingginya permintaan dan keberadaan pengepul di hampir setiap desa.
  • Keberadaan Produk Turunan: Jambu mete memiliki potensi pengolahan tertinggi (0,510). Meskipun produk olahan masih terbatas, kacang mete memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan berpotensi memberikan nilai tambah.

Catatan: Meskipun tembakau memiliki keuntungan usaha tertinggi dan menjadi program prioritas pemerintah daerah yang didukung oleh Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), keunggulan jambu mete pada aspek produksi, permintaan pasar, dan produk turunan menjadikannya sebagai komoditas prioritas utama untuk pengembangan kawasan.